Search This Blog

Search This Blog

Sunday, 18 March 2018

Bakar Menyan Menurut Ulama. lapakbajumangrovepantaisedari_



Hukum Membakar Bukhur (Menyan/Dupa Arab) Dalam Majlis Ilmu atau Sholawatan*
--------------------------------------------------------------------------------
Kemenyan biasa digunakan oleh para dukun untk memanggil jin mereka. Namun kali ini kemenyan (bukhur) di gunakan pada acara sholawatan atau majlis ilmu. Bagi yang tidak mengerti, akan bertanya - tanya di hati bagaimana bisa sesuatu yg biasa digunakan dukun untuk memanggil jinnya, di gunakan dalam acara sholawatan atau majlis ilmu?
Bahkan sampai ada yg menuduh syirik akan hal itu degan dalil hadits Nabi saw _Man Tasyabbaha bi Qoumin Fahuwa Minhum_ 🤭🤭🤭.
Hukum membakar menyan arab (Bukhur) dalam acara sholawatan atau majlis ilmu adalah *Sunnah Muakkad*. Yang menjadi dasar atas amaliyah ini adalah senangnya baginda Nabi saw pada sesuatu yang harum (wangi).
Sehingga kita sering menyaksikan di bakarnya menyan Arab (bukhur) dalam acara maulidan para Habaib.
*Keterangan* :
1. Dlm kitab _Bulghotuth-Thullab_ karya asy-Syaikh Thoifur bin Ali wafa, hal 53 :
مسألة ج : إخراق البخور عند ذكرالله تعالى ونحوه كقراءة القرآن ومجلس العلم له أصل في السنة من حيث أن النبي صلى الله عليه وسلم يحب الريح الطيب الحسن ويحب الطيب ويستعملهما كثيرا ويحض عليهما ويقول حبب الي من دنياكم النساء والطيب وجعلت قرة عيني في الصلاة انتهى .

Sunnah MENCUKUR BULU KUMIS, KETIAK, DAN KEMALUAN . Sambil santai di pantai, mudzakaroh.


MENCUKUR BULU KUMIS, KETIAK, DAN KEMALUAN Bismillaah... Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ رواه مسلم “Sepuluh hal yang termasuk fithrah (kesucian); mencukur kumis, membiarkan lebat jenggot, siwak, istinsyaq (memasukkan air ke hidung), memotong kuku, mencuci celah jemari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan istinja.” Zakaria berkata: Mush’ab berkata: ”Saya lupa yang kesepuluh, kecuali berkumur.” [HR Muslim]. Di antara hikmahnya adalah agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap akibat keringat yang menempel di dalamnya. Cara menghilangkannya, pada dasarnya dengan dicabut (bulu ketiak), namun bila tidak kuat mencabutnya, maka boleh memotongnya dengan gunting, pisau cukur dan semisalnya, atau menghilangkannya dengan tawas dan lainnya. [Syaikh 'Abdullah bin 'Abdurrahman Jibrin, Fatwa-Fatwa Terkini, Jakarta, Darul Haq, 1999 (Juz I, hlm. 176)]. Bulu yang tumbuh di sekitar kemaluan laki-laki maupun perempuan diperintahkan untuk dihilangkan. Demikian ini termasuk sunnah-sunnah fithrah sebagaimana hadits 'Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: وحَلْقُ الْعَانَةِ (mencukur bulu kemaluan). Perintah menghilangkan bulu kemaluan lebih dianjurkan lagi pada suami isteri. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: ”Apabila seorang wanita (isteri) diminta oleh suaminya untuk menghilangkan bulu kemaluannya, maka ada dua pendapat, yang paling shahih (benar) adalah wajib (untuk melakukannya).” [Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhu an-Nawawi, Kairo, al-Mishriyah (Juz 3, hlm. 150-157)].

Saturday, 17 March 2018

Pendapat Para Imam Madzhab.




..قال الامام الشافعي رحمه الله تعالى: من قال او اعتقد ان الله جالس على العرش فهو كافر" (رواه ابن المعلم القرشي في كتابه نجم المهتدي ورجم المعتدي,ص: ١٥٥)
Imam Syafi'i mengatakan: barang siapa yg mengatakan atau meyakini bahwa Allah duduk di atas arasy, maka ia kafir.( Riwayat Ibnu al mu'allim Al Qurasyi dalam kitab nya' najmu al Muhtadi wa Rajm Al mu'tadi" h. 588)
Beberapa rujukan manhaj Ahlussunnah wal jama'ah tentang mensucikan Allah dari sifat-sifat Baharu seperti mengatakan Allah bertempat,ada pada arah atau mengatakan Allah berjisim)
١.قال الامام ابوالحسن الاشعري رضي الله عنه: من اعتقد ان الله جسم فهو غير عارف بربه وأنه كافر به" (ذكره في كتابه النمادر )
Imam abu Al hasan Al Asy'ari mengatakan: orang yg mengatakan bahwa Allah adalah benda,maka ia tidak mengenal Tuhannya dan ia kafir kepada nya "( di sebutkan dalam kitabnya An- Namadir).
٢.قال الامام علي رضي الله عنه: سيرجع قوم من هذه الأمة عند اقتراب الساعة كفارا،ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والاعضاء (رواه ابن المعلم القرشي في كتابه نجم المهتدي ورجم المعتدي،ص ٥٨٨)
Imam 'ali mengatakan: ketika mendekati hari kiamat, sekelompok orang dari umat ini akan kembali menjadi orang-orang kafir. Mereka mengingkari sang pencipta dan mensifatinya dengan benda dan memiliki anggota-anggota badan" (Riwayat Ibnu al mu'allim Al Qurasyi dalam kitab nya 'najmu Al Muhtadi wa Rajm Al mu'tadi" h.588)
٣.قال الامام ابو حنيفه رحمه الله تعالى: من قال بحدوث صفة من صفات الله او شك او توقف كفر"(ذكره في كتابه الوصية)
Imam abu Hanifah mengatakan: barang siapa yang mengatakan bahwa salah satu sifat dari sifat-sifat Allah Baharu, atau ragu atau diam,maka ia telah kafir" (di sebutkan dalam kitabnya Al washiyyah)
٤.قال الامام الشافعي رحمه الله تعالى: من قال او اعتقد ان الله جالس على العرش فهو كافر" (رواه ابن المعلم القرشي في كتابه نجم المهتدي ورجم المعتدي,ص: ١٥٥)
Imam Syafi'i mengatakan: barang siapa yg mengatakan atau meyakini bahwa Allah duduk di atas arasy, maka ia kafir.( Riwayat Ibnu al mu'allim Al Qurasyi dalam kitab nya' najmu al Muhtadi wa Rajm Al mu'tadi" h. 588)
٥. قال الامام احمد بن حنبل رضي الله عنه: من قال جسم لا كالاجسام كفر " ( رواه الحافظ بدر الدين الزركشي في كتابه تشنيف المسامع )
Imam Ahmad bin Hambal berkata: orang yang berkata bahwa Allah adalah benda yg tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir" ( Riwayat Al Hafizh Badruddin az- Zarkasyi dalam tasynif al- Masami)
٦. نقال الحافظ ال

Sunday, 11 March 2018

"Bagaimana Suci itu?"


Pembukaan Kitab
"Fathul Mu'in"

"Suci"
.
Thahãrah secara Bahasa adalah kebersihan diri sehari-hari. Jadi, mandi dan mencuci adalah wujud thahãrah dlm Bahasa. Menurut beberapa Ulama, thahãrah secara istilah fiqh adalah sebuah perbuatan yg (harus) dikerjakan ketika (ingin) melakukan hal-hal yg butuh kepadanya, yakni #wudhu' untuk (sahnya) shalat dan thawaf, dan (bolehnya) menyentuh alQuran & membawanya, #mandi janabah untuk (sahnya) shalat & thawaf, dan (bolehnya) menyentuh alQuran & membawanya, berdiam diri di dlm Masjid, serta membaca alQuran, #ditambah bagi yg habis haid, (bolehnya) cerai & bercumbu. Ketika perbuatan2 di atas dilakukan tanpa ber-thahãrah terlebih dahulu, maka dinyatakan batal (tidak sah) dan haram hukumnya.